BBC Menghadapi Kritik Atas Siaran BAFTA Tanpa Filter yang berisi Penghinaan Rasis

14

British Academy Film Awards (BAFTA) 2024 dibayangi oleh momen yang sangat kontroversial: seorang peserta dengan sindrom Tourette tanpa sadar meneriakkan hinaan rasial selama siaran langsung. Insiden tersebut telah memicu perdebatan mengenai cara BBC menangani acara tersebut, khususnya keputusan BBC untuk menyiarkan cercaan tersebut meskipun ada penundaan selama dua jam.

Ledakan kemarahan terjadi saat aktor Michael B. Jordan dan Delroy Lindo—keduanya berkulit hitam—memberikan penghargaan. Hinaan itu dilontarkan John Davidson yang kisah hidupnya menginspirasi film nominasi BAFTA I Swear. Davidson, yang mengidap sindrom Tourette, mengalami gangguan verbal yang tidak disengaja, beberapa di antaranya dapat berupa bahasa yang menyinggung. Sejak saat itu, dia mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan rasa malu jika tindakannya dianggap disengaja.

Insiden dan Kejatuhan

Menurut para saksi, termasuk desainer produksi Hannah Beachler, cercaan itu diulangi beberapa kali selama pertunjukan. Pembawa acara Alan Cumming secara singkat membahas situasi tersebut, menjelaskan bahwa sindrom Tourette adalah kecacatan yang menyebabkan tics yang tidak terkendali. Namun, upayanya untuk meminta maaf dikritik oleh banyak orang karena dianggap tidak cukup.

Meskipun ada penundaan, BBC awalnya menyimpan cercaan tersebut dalam siaran dan layanan streamingnya, BBC iPlayer, sebelum akhirnya menghapus acara tersebut sepenuhnya. Jaringan tersebut kemudian meminta maaf, menyatakan bahwa penghinaan itu tidak disengaja. Aktor Robert Aramayo, yang memerankan Davidson dalam I Swear, mengklarifikasi bahwa sindrom Tourette adalah kondisi neurologis—bukan pelecehan yang disengaja.

Delroy Lindo menyatakan bahwa tidak ada seorang pun dari BAFTA yang menghubunginya setelah kejadian tersebut, namun dia dan Jordan melanjutkan presentasi mereka.

Memahami Sindrom Tourette

Sindrom Tourette (TS) adalah kelainan neurologis yang ditandai dengan gerakan dan vokalisasi yang tidak disengaja, yang dikenal sebagai tics. Institut Kesehatan Nasional mendefinisikannya sebagai suatu kondisi yang mempengaruhi perkembangan sistem saraf. Meskipun coprolalia—penggunaan bahasa cabul yang tidak disengaja—sering dikaitkan dengan TS, hal ini hanya memengaruhi sekitar 10% individu dengan kondisi tersebut.

Asosiasi Tourette Amerika (TAA) mencatat bahwa coprolalia mungkin tidak dilaporkan karena stigma sosial. Meskipun sebagian besar peserta BAFTA menyadari ledakan tersebut tidak disengaja, beberapa di antaranya merasa frustrasi dengan cara BBC menangani situasi tersebut.

Mengapa Ini Penting

Insiden ini menyoroti kompleksitas siaran langsung ketika ada faktor-faktor yang tidak dapat diprediksi—seperti kondisi medis yang tidak disengaja—yang ikut campur. Keputusan BBC untuk menyiarkan cercaan tersebut, meski ditunda, menimbulkan pertanyaan tentang standar editorial dan sensitivitasnya.

Peristiwa tersebut juga menggarisbawahi kesalahpahaman masyarakat terhadap sindrom Tourette. Kondisi ini sering disalahartikan di media sehingga menimbulkan kesalahpahaman mengenai gejala dan dampaknya.

Pada akhirnya, kontroversi BAFTA menjadi pengingat bahwa siaran yang direncanakan dengan hati-hati sekalipun dapat gagal karena keadaan yang tidak terduga, dan bahwa penanganan yang bertanggung jawab memerlukan kepekaan dan komunikasi yang jelas.

Попередня статтяApple Akan Menjadi Tuan Rumah Pameran Produk di Kota-Kota Besar pada 4 Maret