Konflik yang sedang berlangsung antara AS dan Iran dijadikan senjata secara online melalui gelombang disinformasi, mengeksploitasi kecepatan media sosial untuk menyebarkan narasi palsu dan memicu kebingungan. Mulai dari gambar yang dimanipulasi hingga deepfake yang dihasilkan oleh AI, lanskap informasi telah menjadi medan pertempuran yang berbahaya, dengan jutaan pengguna terpapar pada konten palsu. Ini bukan sekedar hoax yang tidak berbahaya; hal ini secara langsung berdampak pada pemahaman masyarakat terhadap situasi geopolitik yang bergejolak.
Viral Penyebaran Kebohongan
Segera setelah serangan militer AS-Israel baru-baru ini di Iran, termasuk insiden tragis sekolah Shajareh Tayyebeh, postingan viral mulai beredar dalam beberapa hari. Mulai dari rekaman simulator penerbangan yang diubah secara digital yang dianggap sebagai operasi real-time hingga video serangan rudal lama yang diubah fungsinya, semuanya dirancang untuk menyesatkan pemirsa tentang dinamika konflik. Para ahli memperkirakan bahwa postingan ini telah ditonton ratusan juta.
Situasi ini meningkat dengan cepat, mendorong platform seperti X (sebelumnya Twitter) untuk menyesuaikan kebijakan mereka terhadap konten buatan AI yang menggambarkan konflik bersenjata. Berdasarkan aturan baru, pengguna yang memposting konten tersebut tanpa pelabelan yang tepat berisiko ditangguhkan dari program Bagi Hasil Kreator. Namun, tantangannya tetap besar, karena misinformasi menyebar lebih cepat dibandingkan upaya moderasi.
Ekonomi Penipuan
Penyebaran disinformasi dipicu oleh jaringan bot dan akun-akun yang terlibat dalam pertanian yang didorong oleh dua motif utama: pengaruh politik dan keuntungan finansial. Beberapa aktor bertujuan untuk memanipulasi opini publik, sementara yang lain hanya mengeksploitasi sistem untuk mendapatkan uang melalui virus kebohongan. Pengguna, yang seringkali rentan terhadap bias konfirmasi dan bergantung pada media sosial untuk mendapatkan berita, berulang kali menjadi korban taktik ini.
Contoh terbaru termasuk postingan yang secara keliru mengklaim bahwa serangan balik Iran jauh lebih berhasil daripada kenyataan, dengan rekaman dan foto yang dimanipulasi dibagikan secara luas. Satu unggahan yang ditonton lebih dari 4 juta kali secara keliru menggambarkan rudal balistik di Dubai, sementara unggahan lainnya menunjukkan gambar palsu “sebelum dan sesudah” dari kompleks pemimpin Iran yang dibunuh. Yang mengkhawatirkan, banyak dari postingan ini berasal dari akun premium dan terverifikasi, termasuk media yang didanai negara di Iran.
AI Memperparah Krisis
Situasi ini semakin buruk karena pesatnya kemajuan AI generatif dan lemahnya kebijakan moderasi. Chatbot AI dan mesin pencari, termasuk X’s Grok dan Google Search Summaries, terbukti memverifikasi klaim yang menyesatkan, sehingga semakin mengikis kepercayaan terhadap informasi online. Salah satu contohnya adalah AI Google yang mengonfirmasi cerita palsu tentang penghancuran pos terdepan CIA di Dubai, sementara kenyataannya, gambar tersebut menggambarkan kebakaran perumahan pada tahun 2015 di Sharjah.
Pusat Teknologi dan Keamanan Berkembang Inggris memperingatkan bahwa penyebaran misinformasi yang didorong oleh AI yang tidak terkendali ini menimbulkan ancaman besar terhadap keselamatan publik, keamanan nasional, dan bahkan demokrasi itu sendiri.
Kabut Perang dan Ketidaksabaran Pengguna
Krisis ini diperburuk oleh meningkatnya “kabut perang” – kesenjangan antara peristiwa yang terjadi dan pengungkapan informasi yang terverifikasi. Pengguna, yang terbiasa dengan akses instan, mengisi kekosongan ini dengan konten yang belum diverifikasi, memperkuat pemikiran konspirasi dan membuat mereka lebih rentan terhadap manipulasi.
“Masyarakat kini memiliki jarak yang lebih pendek antara peristiwa yang terjadi dan visual autentik yang muncul dari media,” jelas Sofia Rubinson, editor senior di NewsGuard. “Mereka ingin memahaminya, dan visual adalah cara yang baik bagi kita untuk memproses apa yang terjadi dalam perang ketika kita tidak dapat memahami skala konflik ini.”
Kesimpulan
Penyebaran disinformasi selama konflik AS-Iran merupakan sebuah bahaya yang jelas dan nyata. Kombinasi AI tingkat lanjut, moderasi santai, dan ketidaksabaran pengguna menciptakan badai manipulasi yang sempurna. Tanpa intervensi yang mendesak—termasuk peningkatan pengawasan platform, literasi media yang kritis, dan peningkatan upaya pengecekan fakta—terkikisnya kepercayaan terhadap informasi hanya akan semakin cepat, sehingga semakin sulit untuk membedakan realitas dari informasi yang dibuat-buat di dunia yang semakin bergejolak.




















