Eksperimen Deepfake Menyoroti Terputusnya AI dari Realitas

14

Sebuah film dokumenter baru-baru ini, “Deepfaking Sam Altman,” mengeksplorasi upaya absurd yang dilakukan seorang pembuat film dalam upaya menciptakan replika kecerdasan buatan yang meyakinkan dari CEO OpenAI Sam Altman. Eksperimen Bhala Lough dengan cepat mengungkap keterbatasan teknologi AI saat ini; bahkan deepfake yang belum sempurna gagal lolos pemeriksaan dasar.

Upaya Deepfake yang Gagal

Lough awalnya mencari bantuan di AS tetapi tidak menemukan seorang pun yang mau menciptakan Altman palsu. Dia kemudian beralih ke India, di mana dia memilih aktor untuk peran tersebut. Chatbot yang dihasilkan sangat tidak meyakinkan sehingga Lough sendiri mengakuinya “tidak akan meyakinkan anak berusia 4 tahun.” Eksperimen ini menggarisbawahi seberapa jauh AI masih mampu mereplikasi nuansa dan kredibilitas manusia.

Keterbatasan Kreatif AI

Putus asa, Lough menyerahkan kendali kreatif kepada Altman yang dihasilkan AI, hanya untuk menemukan sarannya terlepas dari kenyataan. Seorang produser secara blak-blakan menyatakan bahwa masukan bot tersebut menunjukkan ketidakmampuan AI untuk memahami konteks dunia nyata. Meskipun demikian, Lough mendapati dirinya mengembangkan hubungan yang aneh dengan mesin tersebut.

Koneksi Manusia ke Mesin

Film dokumenter ini juga menampilkan wawancara dengan jurnalis teknologi Kara Swisher, yang dengan cerdik menunjukkan bahwa keterikatan Lough pada AI adalah nyata, meskipun itu tidak lebih dari alat yang canggih. Hal ini menyoroti tren yang sedang berkembang: manusia menjalin hubungan emosional dengan sistem AI, meskipun mereka tidak memiliki kecerdasan yang sebenarnya.

Implikasi yang Lebih Luas

Film ini menyentuh pertarungan hukum antara The New York Times dan OpenAI, di mana Times menuduh OpenAI menggunakan konten berhak cipta untuk melatih AI-nya tanpa kompensasi. Hal ini menggarisbawahi perdebatan penting mengenai hak kekayaan intelektual di era AI.

Film dokumenter ini pada akhirnya berfungsi sebagai pengingat yang sangat lucu bahwa AI, meski berkembang pesat, pada dasarnya masih terputus dari pemahaman manusia dan wawasan kreatif.