Kalkulus Nuklir Baru: Mengapa Semakin Banyak Negara Mempertimbangkan Senjata Atom

17

Peningkatan ketegangan yang terjadi di Iran baru-baru ini, ditambah dengan keputusan Perancis untuk memperluas persenjataan nuklirnya, menandakan adanya perubahan berbahaya dalam keamanan global. Meskipun peristiwa-peristiwa tersebut tampak berbeda, namun hal-hal tersebut mencerminkan konsensus yang semakin berkembang: senjata nuklir kini mendapatkan kembali daya tariknya sebagai alat pencegah di dunia di mana aliansi tradisional sedang retak dan intervensi militer semakin sewenang-wenang.

Preseden Iran: Pencegahan dengan Kekuatan

Konflik yang sedang berlangsung di Iran menunjukkan sebuah pelajaran yang nyata. Dua kekuatan nuklir, Amerika Serikat dan Israel, telah secara efektif menetralisir pertahanan sebuah negara yang mengejar pengayaan nuklir tanpa melakukan persenjataan sepenuhnya. Hal ini mempunyai implikasi di luar Timur Tengah. Fakta bahwa aksi militer ini terjadi selama negosiasi dengan Iran, dan mengancam kelangsungan rezim tersebut, tidak luput dari perhatian negara-negara lain.

Selama bertahun-tahun, Iran mempertahankan “ambang batas” negara nuklirnya, memperkaya uranium tanpa melewati batas untuk dijadikan senjata skala penuh. Strategi ini bertujuan untuk mendapatkan konsesi melalui ancaman tanpa menimbulkan biaya diplomatik akibat proliferasi yang sebenarnya. Namun, hal ini terbukti membawa bencana: sanksi melumpuhkan perekonomian, dan pertahanan militer konvensional gagal menghalangi intervensi tegas.

Hasil ini menunjukkan bahwa tindakan setengah-setengah saja tidak cukup. Negara-negara harus berkomitmen penuh terhadap pencegahan nuklir atau menghadapi konsekuensi kerentanan.

Contoh Tandingan Korea Utara: Nilai Penyelesaian

Sementara nasib Iran sedang berkembang, Korea Utara justru menghadapi situasi yang sangat kontras. Meskipun mendapat sanksi dan ancaman selama beberapa dekade, Pyongyang tidak hanya mempertahankan persenjataan nuklirnya (diperkirakan memiliki sekitar 50 hulu ledak) tetapi juga secara de facto diterima oleh komunitas internasional.

Rezim Kim belajar dari nasib Libya dan Irak, yang melepaskan program nuklir mereka hanya untuk digulingkan. Pengembangan kemampuan nuklir Korea Utara secara menyeluruh telah menjamin kelangsungan hidupnya, bahkan di bawah tekanan ekstrem. Seperti yang dicatat oleh seorang analis, “Pyongyang dan Teheran akan menyajikan dua perumpamaan untuk proliferasi berikutnya; tampaknya cukup jelas pendekatan mana yang lebih menarik.”

Persenjataan Kembali Nuklir Prancis: Sekutu Mencari Kemerdekaan

Keputusan Perancis untuk memperluas persenjataan nuklirnya, yang diumumkan oleh Presiden Macron, merupakan tanda lain dari perubahan lanskap. Macron menyebutkan perlunya kemerdekaan Eropa dari jaminan keamanan yang tidak dapat diandalkan, khususnya dari Amerika Serikat.

Langkah ini dilakukan setelah bertahun-tahun meningkatnya skeptisisme di antara negara-negara Eropa terhadap komitmen AS. Ancaman Trump untuk menarik diri dari NATO, upayanya merebut Greenland dari Denmark, dan serangannya baru-baru ini terhadap sekutu yang menolak mendukung intervensi militer telah mengikis kepercayaan.

Tindakan Perancis mungkin menginspirasi negara-negara Eropa lainnya, seperti Polandia, untuk mengembangkan kemampuan nuklir mereka sendiri. Pidato Macron secara efektif mengisyaratkan bahwa Eropa tidak bisa lagi hanya mengandalkan payung nuklir AS.

Erosi Pengendalian Senjata: Era Nuklir Baru

Runtuhnya perjanjian pengendalian senjata AS-Rusia yang terakhir semakin mempercepat tren ini. Ketika Tiongkok dengan cepat memperluas persenjataannya, dan AS mengabaikan perjanjian yang telah berlaku puluhan tahun, dunia memasuki era nuklir baru. Ancaman nuklir kini menjadi hal yang biasa sebagai taktik pemaksaan, seperti yang terlihat dalam retorika Putin selama konflik di Ukraina.

AS secara historis berupaya mencegah proliferasi, bahkan di antara sekutunya seperti Korea Selatan dan Taiwan. Namun, kebijakan luar negeri AS saat ini mungkin secara tidak sengaja mendorong lebih banyak negara untuk mengembangkan senjata nuklir. Opini publik di negara-negara yang dianggap menghadapi ancaman sedang berubah. Misalnya, 74% warga Korea Selatan kini mendukung pengembangan senjata nuklir mereka sendiri.

Proliferasi senjata nuklir meningkatkan risiko penggunaan yang disengaja atau tidak disengaja. Semakin banyak aktor yang terlibat, semakin tinggi kemungkinan terjadinya kesalahan perhitungan atau eskalasi. Dunia sedang menuju masa depan yang lebih tidak stabil, dan pencegahan utama mungkin merupakan satu-satunya jaminan kelangsungan hidup.