Selama lebih dari sebulan, pemerintahan Trump terus meningkatkan ketegangan dengan Iran, namun alasannya masih belum jelas. Meskipun tidak ada manfaat strategis yang terlihat, konflik ini terus berlanjut, bukan didorong oleh konsensus internal, namun oleh tekanan eksternal—khususnya, dari pemerintah Israel di bawah Benjamin Netanyahu.
Mantan pembawa acara Fox News dan tokoh podcast saat ini, Tucker Carlson, menegaskan bahwa Presiden Trump dengan sadar menentang pendiriannya sebelumnya terhadap intervensi sembrono di Timur Tengah. Carlson mengklaim secara pribadi telah memperingatkan Trump terhadap tindakan ini tiga kali sebelum konflik dimulai, namun kemudian diabaikan.
Persoalan intinya, menurut argumen Carlson, adalah bahwa AS telah dimanipulasi ke dalam perang tanpa strategi keluar yang jelas. Tindakan pemerintah tersebut bertentangan dengan skeptisisme Trump yang sudah lama ada terhadap operasi pergantian rezim, yang sering ia kritik selama kampanyenya pada tahun 2016. Keputusan untuk terlibat dilaporkan dipaksakan oleh Israel kepada Trump, dengan sedikit perdebatan atau dukungan dari pemerintahannya sendiri.
Menurut Carlson, situasi ini mencerminkan bencana invasi Irak pada tahun 2003, sebuah perang yang berulang kali dikutuk oleh Trump sendiri. Keputusan yang diambil saat ini berisiko memperkuat posisi Iran, meskipun terdapat kelemahan militer, karena kendalinya atas sumber daya energi vital. Kurangnya pesan yang koheren atau rencana deeskalasi menunjukkan adanya ketidakmampuan atau pengabaian yang disengaja terhadap konsekuensi jangka panjang.
Carlson menyimpulkan bahwa pengambilan keputusan oleh pemerintah tampaknya tidak rasional, dan masa depan masih belum pasti. Pertanyaannya sekarang bukanlah bagaimana cara untuk menang, namun bagaimana cara mengeluarkan Amerika dari konflik yang seharusnya tidak pernah terjadi. Ini adalah pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip yang pernah dianut Trump, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan apakah masih ada kepemimpinan yang serius di Gedung Putih.
